Ketika Azalika di Perut Ibunya
Kurniawan Junaedhie
waktu kamu umur empat bulan
aku suka pasang kuping di perut ibumu
dan kukira, di dalam sana pun kamu ikut
pasang kuping
sembari tertawa sendiri
melihatku menangis dan meringis silih berganti
waktu kamu umur lima bulan
waktu kami mulai sibuk mencari nama
waktu kami suka senyum-senyum sendiri
karena merasa bakal momong anak,
kamu mungkin akan heran,
dunia orang dewasa ternyata norak dan kampungan
tapi aku memang tak sabar menunggumu
mungkin ini perlu kamu tahu:
ketika malam menjadi paripurna di bar
ketika aku sedang stres karena pekerjaan kantor
ketika aku jauh dari rumah
hanya kamu yang kuingat
juga ketika bangun pagi hari
ketika nonton televisi
ketika melihat gambar bagus di kaos anak-anak
aku merasa diriku seperti ayah-ayah yang lain
yang janji untuk menyayangi anak-anaknya
meski mereka nakal dan bengal
dan angka rapotnya kebakaran
harap kamu tahu,
kamulah yang bikin aku tambah sayang
pada pepohonan, tanaman, binatang, desir hujan
kamu juga yang bikin umurku terus bertambah
dan hidup tambah bergairah
Juli 1995/ 2009
Friday, July 15, 2011
Ketika Azalika di Perut Ibunya | Kurniawan Junaedhie
7 comments 5:00 AM Posted by karyapuisiSunday, May 29, 2011
Puisi Hakikat Perbedaan | Maskur Adi Tarbiyanto
3 comments 5:13 AM Posted by karyapuisiHAKIKAT PERBEDAAN
Karya : Maskur Adi Tarbiyanto
Segala yang ada di dunia ini
Pastilah tidak sendiri
Selalu diciptakan berpasangan
Meski terlihat berlawanan
Namun justru saling menguatkan
Kanan-kiri, hitam-putih, yin-yang, lingga-yoni
Demikianlah,
Alam telah mengaturnya
Semua makhluk di dunia
Mutlak berbeda-beda
Demikian juga manusia
Bersuku-suku, berbangsa-bangsa
Demikianlah,
Alam telah mewujudkannya
Tak sebutir peluru pun
Bisa membuat pelangi
Hanya menjadi satu warna
Tak sebilah pedang pun
Bisa memaksa mulut bersuara sama
Bahkan dalam paduan suara
Ada suara satu, dua dan tiga
Tak ada satupun kekuasaan manusia
Yang bisa menjadikan warna kulit
Hitam semua,
Putih semua,
Atau kuning semua
Karenanya
Biarkan pelangi tetap menjadi pelangi
Menghiasi bumi
Dengan warna warninya
Biarkan mawar tetap menjadi mawar
Memperindah semesta
Dengan harumnya
Karena demikianlah
Alam telah mengaturnya
Friday, May 27, 2011
The Poem For Jakarta | Puisi Tentang Jakarta
0 comments 3:13 AM Posted by karyapuisiTHE POEM FOR JAKARTA
Karya : Ahmad Al Matin EM
Temaram lampu-lampu menghias
Seakan bintang turun dan tidur di bumi
Di sini beribu batu batu tersusun
Jadi istana pencakar langit
Berjuta semut besi menderu
Memuntahkan asap penat :
Kepalaku sakit
Jakarta, tempat para pejabat
Berpesta dengan suapan serakah
Tempat para hawa menawarkan
Sajian hangat malam hari
Jakarta, penuh kabut dendam
Orang-orang berwajah hitam berkulit kelabu
Jakarta, lautan dengki dan takabur
Dan senandung kesombongan menggelegar
Dari timur ke barat
Dari selatan ke utara
Puisi Jembatan Burung Burung | Dian Nendi
0 comments 3:08 AM Posted by karyapuisiJEMBATAN BURUNG-BURUNG
Karya : Ihung (Dian Nendi)
Burung-burung terbang ke tenggara
Meninggalkan sarang dan sanak saudara
Meninggalkan sempurna luka; hutan yang terbakar
Gemuruh batang tumbang
Derak ranting dan kabut tebal
Mengantar hingga batas kota
Di atas tiang jembatan
Dilumpuhkannya kebahagiaan itu
Dikenangnya pula batasan hening dan air mata
Lalu mereka lintasi sungai-sungai kering
Batu-batu hitam yang diterkam kerontang
Lumpur terik dan keriting
Menunjuk arah muasal bising
Tempat segala pekik melebihi deru angin
Tak ada suara menyertai perjalanan
Paruh-paruh terkatup
Diliput basah lumut yang tinggal lamunan
Dililit kembang akar yang tinggal sejarah
Hanya hati yang melesat mendahului pergi
Menjumpai antrian panjang kendaraan
Lalu-lalang orang di lantai atas gedung pertokoan
Segala poster dan juga spanduk-spanduk iklan
Yang mereka tanyakan
Kenapa mesti hutan yang dijadikan ajang pertempuran
Kenapa mesti mereka yang kemudian harus mencatat kecemasan
Lalu sepenggal getir mengisahkan kepiluan
Ketika langit membangun mendung dari jutaan burung-burung
Ketika cakar demi cakar
menggambar darah
Dikibar jantungmu yang lambat tengadah
“burung ababil menyerang kota
Burung ababil menyerang kita!”
Puisi Tentang Mawar | Dian Nendi
0 comments 3:02 AM Posted by karyapuisiMAWAR
Karya : Ihung (Dian Nendi)
Seikat mawar
Dijual penyamun
Di jalanan
Di bawah lampu merah
Diantara simpang-siur kemacetan
Adu-tawar dan perdebatan
Menjadi warna
Peradaban
Dari mulut ke mulut
Dari hari ke hari
Harum mawar laksana topan
Memporak-porandakan kedamaian
Terang bulan diatas klopak trotoar
Seikat mawar
Yang dijual penyamun di jalanan
Tak lebih dari sepasir janji
Yang butirnya
membuat matamu buta
Dan kau
Tak bisa lagi meraba
di mana
Keadilan itu bertahta
Sunday, May 22, 2011
Puisi Rahasia Api, Salju, dan Diriku
0 comments 4:49 AM Posted by karyapuisiRAHASIA API, SALJU, DAN DIRIKU
Karya : Abdul Azis Sukarno
Rahasia api ada dalam panasnya
Rahasia salju ada dalam dinginnya
Rahasia diriku ada dalam cinta
Panas, dingin, dan cinta tak bisa diurai dengan apapun
Kecuali dengan merasakannya
Dekatilah api, jika kau ingin terbakar hangus
Dekatilah salju, jika kau ingin menggigil beku
Dekatilah diriku, jika kau ingin bahagia selalu
Terbakar, menggigil, dan bahagia, bukan penyebab siapapun
Melainkan kitalah yang memilihnya
Kitalah yang menciptakannya
Kitalah yang membuat mereka benar-benar ada
Rahasia api, salju, dan diriku adalah rahasia hidup
Yang mesti engkau singkap
Dengan binar mata hati seorang penyingkap
untuk menemukan seberapa tebalkah
tabir misteri yang meliputinya
Puisi Guman Penghabisan Seorang TKW
0 comments 4:39 AM Posted by karyapuisiGUMAM PENGHABISAN SEORANG TKW
karya :Mega Vristian
segalanya kemudian menjadi temaram
ketika senja direnggut malam
dan kereta ajal tiba menjemput di tiang gantungan
hari datang dan pergi
menjinjing selaksa teka-teki
kemungkinan pun gerbang tak terkunci
sedang ajal dan duka
menunggu di tikungan
menyergap harapan
selamat tinggal tak sempat terucap kepadamu, nak saat kereta tiba
mayatku diturunkan dari tiang gantungan
dicatat di satudua kalimat oleh koran-koran
"hari ini seorang tkw indonesia telah digantung hukum singapura"
lalu hilang di lubuk malam
orang-orang tak menyimpan arsipnya
di bekas roda kereta maut yang tiba dan berlalu jelas benar kemiskinan memerosotkan martabat
keadilan hanyalah kata-kata manis bagi orang tak berdaya tak masuk hitungan dalam politik
segalanya kemudian menjadi temaram
ketika senja direnggut malam
dan kereta ajal tiba menjemput di tiang gantungan
aku bergumam sendiri menggumamkan duka penghabisan
mengumamkan kembara tkw
martabat terlalu jauh sudah diperosotkan kemiskinan
(Hong Kong, Mei 2004.)
Friday, May 20, 2011
Puisi Aku Ingin Pulang | S Retno Indaryanti
0 comments 12:10 PM Posted by karyapuisiAKU INGIN PULANG
Karya : S. Retno Indaryanti (Lie Phan)
Dulu……
‘Kalau saja…….mungkin sekarang……’
‘Seandainya……barangkali saat ini…..’
‘Seharusnya ……jadi kita sudah……’
Aku mengetuk jendela kamarku
Meruntuhkan salju yang menggunung
Memberikan panorama yang bersih, putih
Memberikan keamanan jiwa ragaku……
Betapa bedanya dengan negeriku yang penuh warna
Aku merindukan hijaunya permadani sawahku
Aku merindukan bau amis pantaiku
Aku merindukan sejuknya pegununganku
Aku merindukan suara-suara pedagang pasarku
Aku sungguh merindukan negeriku……
‘You miss something, Dady?’ aku diam saja
‘You will go home, Dady!’ akupun diam saja
Gadis kecil pirang ini memberikan tissue,
untuk menghapus deras air mataku,
karena aku tidak punya jawaban………
aku memasuki gedung megah bertingkat puluhan,
menuju loket dan mengeluarkan tanda diriku,
‘Are you Indonesia, Sir?’ sepercik senyum asia menyapaku
Aku tertegun sejenak…… (mengangguk dalam hati?
‘No!’ suaraku menikam jantungku…..
Kalau saja dulu…..
Puisi Ilmu | Puisi Tentang Ilmu
0 comments 12:05 PM Posted by karyapuisiILMU
Karya : Doni WS
Ku buka buku helai demi helai
Ku baca kata demi kata dengan hati
Ku tulis semua makna dan arti
Ilmuku tak terasa berat ku bawa
Ke ingin tahuanku tak malu bertanya
Biar semua tahu itu apa
Biarku jawab itu semua
Karma ku tahu itu jawabannya
Otaku tak ingin beku
Pikiranku selalu ingin tahu
Karena pengetahuanku aku jadi lugu
Subscribe to:
Posts (Atom)



